Pernah melihat konten yang informatif dan menarik, tetapi setelah selesai dibaca atau ditonton, kamu tidak tahu harus melakukan apa selanjutnya? Di sinilah Call to Action atau CTA berperan. CTA memberi arahan kepada audiens, misalnya untuk membaca artikel lain, memberikan komentar, mengunjungi website, mendaftar, atau membeli produk.
Dalam digital marketing, CTA bukan sekadar kalimat promosi di akhir konten. Ajakan perlu disesuaikan dengan tujuan, isi pesan, dan kondisi audiens. CTA untuk konten edukasi tentu berbeda dari CTA pada iklan produk atau video hiburan di media sosial.
Lalu, apa itu CTA, bagaimana cara membuatnya, dan seperti apa contoh yang bisa digunakan di Instagram, TikTok, maupun YouTube? Mari bahas satu per satu, termasuk kesalahan yang perlu dihindari agar ajakanmu tetap relevan dan tidak terasa memaksa.
Table of Contents
Apa Itu CTA?
Pengertian CTA
CTA adalah singkatan dari Call to Action, yaitu ajakan yang mengarahkan audiens untuk melakukan tindakan tertentu setelah menerima sebuah pesan atau konten. Tindakan tersebut dapat berupa mengeklik tautan, mengikuti akun, mengisi formulir, menghubungi bisnis, mendaftar program, hingga melakukan pembelian.
CTA bisa disampaikan dalam berbagai bentuk. Pada website, CTA dapat berupa tombol atau tautan. Dalam artikel dan caption media sosial, CTA bisa muncul sebagai kalimat ajakan. Sementara itu, dalam video, ajakan dapat disampaikan melalui ucapan, teks di layar, atau fitur interaktif yang tersedia pada platform.
Contohnya, sebuah bisnis membagikan konten tentang cara memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan. Di akhir konten, bisnis tersebut mengajak audiens melihat katalog produknya. Kalimat seperti “Lihat pilihan produk kami untuk menemukan yang sesuai dengan kebutuhanmu” merupakan CTA karena memberi arahan tentang langkah berikutnya.
Jadi, CTA tidak harus selalu berbunyi “Beli sekarang”. Bentuk dan bahasanya bergantung pada tindakan yang ingin dicapai serta konteks ketika ajakan disampaikan.
Peran CTA dalam Digital Marketing
CTA menghubungkan konten dengan tindakan yang diharapkan dari audiens. Konten dapat memberikan informasi, memperkenalkan merek, atau membangun ketertarikan. CTA kemudian menawarkan langkah berikutnya yang relevan dengan tujuan tersebut.
Misalnya, artikel edukasi dapat mengarahkan pembaca ke panduan lanjutan, konten media sosial dapat mengundang audiens berdiskusi, sedangkan halaman layanan dapat mengajak pengunjung berkonsultasi. Ketiganya menggunakan CTA, tetapi tindakan yang diminta berbeda.
CTA juga membantu bisnis mengevaluasi respons audiens. Jika sebuah halaman memiliki tombol pendaftaran, misalnya, bisnis dapat memantau berapa banyak pengunjung yang mengeklik tombol tersebut dan melanjutkan proses pendaftaran. Data ini bisa menjadi bahan evaluasi, meskipun hasil akhirnya tetap dipengaruhi faktor lain, seperti relevansi penawaran dan kemudahan proses.
Karena itu, CTA sebaiknya menjadi bagian dari alur komunikasi, bukan sekadar elemen tambahan agar konten terlihat lebih menjual. Ajakan yang tepat membantu audiens memahami langkah berikutnya tanpa mengalihkan perhatian dari tujuan utama konten.
Apa Fungsi CTA?
Fungsi CTA tidak terbatas pada mendorong pembelian. Bergantung pada tujuan pemasaran, CTA dapat membantu bisnis mengarahkan perhatian, membuka interaksi, atau mengajak audiens melanjutkan perjalanan menuju tindakan yang lebih spesifik.
Mengarahkan Audiens Melakukan Tindakan
Audiens bisa saja tertarik dengan sebuah konten, tetapi belum tentu mengetahui langkah selanjutnya. CTA membantu memberikan arahan yang lebih konkret.
Sebagai contoh, setelah membaca artikel tentang perencanaan keuangan, seseorang mungkin ingin mempelajari topik terkait. Ajakan “Pelajari panduan berikutnya” memberi petunjuk yang lebih jelas daripada menutup artikel tanpa arahan lanjutan.
Arahan tersebut perlu sesuai dengan isi konten. Jika sebuah video membahas tips memilih produk, misalnya, CTA untuk melihat detail produk yang relevan akan terasa lebih masuk akal dibandingkan ajakan membeli sesuatu yang tidak berkaitan dengan pembahasan.
Mendorong Interaksi dan Engagement
CTA juga dapat mengajak audiens memberikan respons terhadap konten. Bentuknya bisa berupa pertanyaan, ajakan berkomentar, permintaan untuk membagikan pengalaman, atau ajakan mengikuti akun untuk memperoleh informasi berikutnya. Interaksi semacam ini merupakan salah satu bentuk engagement pada konten media sosial.
Misalnya, sebuah konten membahas kesalahan umum ketika menjalankan bisnis. CTA seperti “Kesalahan mana yang pernah kamu alami? Ceritakan di kolom komentar” memberi alasan bagi audiens untuk ikut berdiskusi.
Meski begitu, interaksi yang tinggi tidak otomatis berarti tujuan pemasaran tercapai. Bisnis tetap perlu memperhatikan relevansi respons dan menilai hasilnya berdasarkan tujuan konten.
Mendukung Konversi dan Tujuan Bisnis
CTA dapat mengarahkan audiens pada tindakan yang lebih dekat dengan tujuan bisnis, seperti mengisi formulir, meminta penawaran, mendaftar konsultasi, atau membeli produk.
Pada tahap ini, kejelasan menjadi penting. Pengunjung yang tertarik pada sebuah layanan perlu memahami apa yang akan terjadi setelah mengeklik CTA. Jika tombol bertuliskan “Konsultasi Sekarang”, misalnya, halaman tujuan sebaiknya benar-benar mengarahkan mereka ke proses konsultasi yang dijanjikan.
CTA dapat mendukung konversi, tetapi tidak menjamin bahwa setiap orang yang melihatnya akan mengambil tindakan. Kesesuaian penawaran, kepercayaan terhadap bisnis, harga, dan pengalaman pengguna juga dapat memengaruhi keputusan audiens.
Apa Saja Jenis CTA?

Jenis CTA dapat dibedakan berdasarkan tindakan yang ingin dicapai. Pengelompokan ini membantu bisnis menentukan bentuk ajakan yang sesuai sebelum memilih kalimat yang akan digunakan.
CTA untuk Membaca atau Mempelajari Lebih Lanjut
CTA ini mengajak audiens melanjutkan konsumsi informasi. Bentuknya sering digunakan pada artikel, konten edukasi, halaman produk, atau materi yang memiliki pembahasan lanjutan.
Contohnya:
- “Baca panduan lengkapnya.”
- “Pelajari cara kerjanya.”
- “Lihat detail selengkapnya.”
- “Temukan tips berikutnya.”
CTA seperti ini cocok ketika tujuan konten adalah membantu audiens memperoleh informasi tambahan, bukan langsung mendorong transaksi.
CTA untuk Berinteraksi di Media Sosial
CTA interaksi digunakan untuk mengajak audiens berpartisipasi dalam percakapan atau aktivitas di media sosial. Bentuknya dapat disesuaikan dengan format konten dan kebiasaan audiens pada platform tersebut.
Contohnya:
- “Bagikan pengalamanmu di kolom komentar.”
- “Simpan postingan ini untuk nanti.”
- “Bagikan konten ini kepada teman yang membutuhkan.”
- “Ikuti akun kami untuk konten berikutnya.”
Pilih tindakan yang relevan dengan isi unggahan. Tidak semua konten perlu meminta audiens melakukan banyak hal sekaligus.
CTA untuk Menghubungi Bisnis atau Mendaftar
CTA ini mengarahkan audiens ke proses komunikasi atau pendaftaran. Biasanya, ajakan tersebut digunakan ketika bisnis ingin memperoleh pertanyaan, data calon pelanggan, permintaan penawaran, atau peserta program.
Contohnya:
- “Hubungi tim kami untuk informasi lebih lanjut.”
- “Isi formulir untuk mendaftar.”
- “Jadwalkan konsultasi.”
- “Minta penawaran sesuai kebutuhan bisnismu.”
Pastikan tindakan yang diminta jelas dan proses setelah klik tidak membingungkan. Jika CTA mengarah ke formulir, misalnya, jelaskan informasi apa yang perlu diisi dan untuk keperluan apa data tersebut digunakan.
CTA untuk Mendorong Pembelian
CTA pembelian mengarahkan audiens menuju tindakan transaksi, baik secara langsung maupun melalui tahapan yang mendukung keputusan pembelian.
Contohnya:
- “Lihat pilihan produk.”
- “Pilih paket yang sesuai.”
- “Tambahkan ke keranjang.”
- “Beli produk sekarang.”
CTA penjualan tidak harus selalu menggunakan bahasa mendesak. Untuk produk yang membutuhkan pertimbangan lebih panjang, ajakan melihat detail, membandingkan pilihan, atau berkonsultasi bisa lebih sesuai daripada langsung meminta audiens membeli.
Contoh CTA Berdasarkan Tujuannya
Setelah memahami jenisnya, kamu bisa memilih kalimat CTA berdasarkan tujuan konten yang sedang dibuat. Contoh berikut dapat digunakan sebagai inspirasi, lalu disesuaikan dengan karakter merek, audiens yang ingin dijangkau, dan penawaran yang sebenarnya tersedia.
CTA untuk Konten Edukasi
Konten edukasi bertujuan membantu audiens memahami suatu topik atau menyelesaikan masalah tertentu. Karena itu, CTA sebaiknya menawarkan kelanjutan yang masih berkaitan dengan informasi yang baru mereka terima.
Contoh:
- “Simpan panduan ini agar mudah kamu temukan saat dibutuhkan.”
- “Baca penjelasan lengkapnya di artikel berikut.”
- “Coba langkah pertama yang sudah dibahas.”
- “Bagikan tips ini kepada teman yang membutuhkannya.”
Jika konten membahas satu langkah dari proses yang lebih panjang, arahkan audiens ke pembahasan lanjutan. Hindari CTA yang tiba-tiba menawarkan produk yang tidak memiliki hubungan jelas dengan topik.
CTA untuk Promosi Produk
Pada konten promosi, CTA membantu audiens melanjutkan ketertarikan mereka terhadap produk. Kalimatnya dapat berfokus pada informasi, eksplorasi pilihan, atau transaksi, tergantung pada kesiapan calon pembeli.
Contoh:
- “Lihat detail produk dan pilihan variannya.”
- “Temukan produk yang sesuai dengan kebutuhanmu.”
- “Cek ketersediaan ukuran sebelum memesan.”
- “Pesan melalui halaman produk.”
Gunakan CTA yang sesuai dengan penawaran sebenarnya. Jangan menambahkan klaim seperti “stok hampir habis” atau “diskon berakhir hari ini” jika informasi tersebut tidak benar.
CTA untuk Mendapatkan Leads
Leads adalah calon pelanggan yang menunjukkan ketertarikan dan dapat ditindaklanjuti oleh bisnis. CTA untuk mendapatkan leads biasanya mengarahkan audiens ke formulir, konsultasi, permintaan penawaran, atau pendaftaran.
Contoh:
- “Isi formulir untuk mendapatkan informasi layanan.”
- “Jadwalkan konsultasi sesuai kebutuhan bisnismu.”
- “Minta penawaran untuk proyekmu.”
- “Daftar untuk mengikuti sesi berikutnya.”
Sebelum menggunakan CTA semacam ini, pastikan proses yang ditawarkan memang tersedia. Jika audiens diminta mengisi formulir untuk mendapatkan materi tertentu, misalnya, materi tersebut harus sesuai dengan janji yang disampaikan.
CTA untuk Meningkatkan Interaksi
CTA interaksi dapat membantu membuka percakapan dan mengajak audiens berbagi pendapat. Ajakan sebaiknya memiliki hubungan dengan topik konten sehingga audiens tahu apa yang bisa mereka tanggapi.
Contoh:
- “Menurutmu, cara mana yang paling mudah diterapkan?”
- “Apa tantangan yang paling sering kamu temui?”
- “Pilih salah satu opsi dan jelaskan alasannya.”
- “Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar.”
Pertanyaan yang spesifik dan mudah dipahami memberi audiens konteks yang lebih jelas untuk merespons. Misalnya, daripada sekadar menulis “Bagaimana pendapatmu?”, kamu bisa menanyakan bagian tertentu dari pembahasan yang ingin didiskusikan. Kualitas respons tetap bergantung pada topik, audiens, dan cara konten disampaikan.
Apa Itu CTA dalam Konten?
CTA dapat hadir dalam berbagai materi komunikasi, mulai dari artikel hingga video. Bentuk dan penempatannya mengikuti format konten serta tindakan yang ingin diarahkan.
Bentuk CTA dalam Artikel, Caption, dan Konten Visual
Dalam artikel blog, CTA dapat berupa ajakan membaca pembahasan terkait, mengunduh materi, atau menghubungi bisnis setelah pembaca memperoleh informasi yang dibutuhkan. Ajakan tersebut sebaiknya menjadi kelanjutan yang masuk akal dari isi artikel.
Pada caption media sosial, CTA dapat digunakan untuk mengundang komentar, mengarahkan audiens ke tautan yang tersedia, atau mengajak mereka melihat konten lain. Jika kamu sedang menyiapkan caption promosi, kamu bisa melihat contoh caption jualan sebagai inspirasi, lalu menyesuaikannya dengan pesan dan tujuan konten.
Sementara itu, dalam konten visual seperti poster dan carousel, CTA dapat disampaikan melalui teks yang mudah ditemukan dan dipahami. Sebagai contoh, sebuah carousel berisi tips memilih layanan digital marketing dapat ditutup dengan kalimat “Simpan panduan ini untuk referensi saat mengevaluasi kebutuhan bisnismu”. Ajakan tersebut selaras dengan manfaat konten, sehingga tidak terasa seperti promosi yang dipaksakan.
Panduan Meta tentang penggunaan AI untuk membantu membuat caption Instagram juga dapat menjadi referensi dalam proses penyusunan caption. Apa pun alat yang digunakan, isi caption dan CTA tetap perlu diperiksa agar sesuai dengan pesan, tujuan, serta informasi yang benar.
Cara Menempatkan CTA agar Relevan
Penempatan CTA bergantung pada alur konten dan tindakan yang ingin dicapai. Pada artikel panjang, ajakan dapat muncul setelah pembahasan yang relevan atau di bagian penutup. Pada video pendek, CTA bisa disampaikan ketika konteksnya sudah cukup jelas, baik melalui ucapan maupun teks di layar.
CTA juga tidak selalu harus menunggu sampai bagian paling akhir. Jika sebuah konten memiliki beberapa bagian yang berdiri sendiri, ajakan dapat ditempatkan setelah bagian tertentu selama tidak mengganggu pengalaman audiens.
Yang perlu diperhatikan adalah hubungan antara isi konten, ajakan, dan tujuan akhirnya. Jangan mengarahkan audiens ke halaman yang tidak sesuai dengan janji dalam CTA karena hal tersebut dapat menimbulkan kebingungan dan mengurangi kepercayaan.
Apa Itu CTA di TikTok?
CTA di TikTok adalah ajakan yang disampaikan melalui video, teks di layar, caption, atau fitur platform yang tersedia untuk mengarahkan audiens melakukan tindakan tertentu. Tindakannya bisa berupa mengikuti akun, berkomentar, menonton konten lain, melihat produk, atau mengunjungi halaman yang relevan.
Contoh CTA untuk Video TikTok
Contoh CTA untuk TikTok perlu disesuaikan dengan jenis konten dan tujuan video. Berikut beberapa pilihan yang bisa kamu adaptasi:
- Konten edukasi: “Simpan video ini supaya kamu bisa mencoba langkahnya nanti.”
- Konten diskusi: “Pernah mengalami hal serupa? Ceritakan di komentar.”
- Konten berseri: “Lanjutkan ke video berikutnya untuk pembahasan selanjutnya.”
- Konten produk: “Lihat detail produk untuk mengetahui pilihan yang tersedia.”
- Konten pengenalan akun: “Ikuti akun ini kalau kamu ingin melihat pembahasan sejenis.”
Contoh tersebut bukan formula yang harus digunakan pada semua video. Pilih ajakan yang sesuai dengan isi konten dan jangan meminta terlalu banyak tindakan dalam satu video jika semuanya tidak diperlukan.
Cara Menggunakan CTA dalam Video dan Caption TikTok
Dalam video TikTok, CTA dapat disampaikan melalui ucapan, teks di layar, atau kombinasi keduanya. Pastikan ajakan mudah dipahami dan muncul ketika audiens sudah memperoleh konteks yang cukup tentang isi video.
Caption juga dapat memperjelas langkah selanjutnya, tetapi jangan hanya mengulang semua informasi yang sudah disampaikan dalam video. Gunakan ruang tersebut untuk menambahkan konteks atau mengarahkan audiens ke tindakan yang relevan.
Jika tujuan konten adalah memperkenalkan produk, misalnya, jelaskan manfaat atau informasi penting terlebih dahulu sebelum mengajak audiens melihat detailnya. Untuk konten edukasi, ajakan menyimpan video atau menyampaikan pengalaman mungkin lebih relevan daripada langsung meminta pembelian.
Jika kamu ingin menggunakan CTA untuk mendukung penjualan, ajakan sebaiknya menjadi kelanjutan dari konten yang sudah menjelaskan manfaat produk dan membantu calon pembeli menentukan langkah berikutnya. Kamu bisa mempelajari pendekatan yang lebih menyeluruh melalui panduan cara jualan di TikTok, mulai dari menyiapkan produk hingga mengevaluasi penjualan.
Apa Itu CTA YouTube?
CTA YouTube adalah ajakan yang digunakan untuk mengarahkan penonton melakukan tindakan selama atau setelah menonton video. Bentuknya dapat berupa ajakan lisan, teks pada video, tautan yang tersedia, atau elemen interaktif yang didukung YouTube.
Contoh CTA untuk Video YouTube
CTA di YouTube bisa digunakan untuk berbagai tujuan, bergantung pada jenis channel dan isi video. Berikut beberapa contoh:
- Video tutorial: “Lihat video berikutnya untuk mempelajari tahap selanjutnya.”
- Video diskusi: “Tulis pendapatmu di kolom komentar.”
- Channel edukasi: “Subscribe jika kamu ingin mengikuti pembahasan berikutnya.”
- Video ulasan produk: “Periksa deskripsi video untuk melihat informasi tambahan yang relevan.”
- Video layanan: “Kunjungi halaman layanan untuk membaca detail yang sesuai dengan kebutuhanmu.”
Gunakan CTA yang benar-benar berkaitan dengan isi video. Jika mengarahkan penonton ke tautan eksternal, pastikan tautan tersebut tersedia dan tujuan halamannya sesuai dengan informasi yang disampaikan.
Menggunakan CTA melalui Ucapan dan End Screen
CTA di YouTube dapat disampaikan secara lisan ketika video berlangsung atau melalui elemen yang tersedia di platform. Salah satu fitur yang dapat dimanfaatkan adalah end screen, yaitu elemen pada bagian akhir video yang bisa digunakan untuk mengarahkan penonton ke konten atau tujuan lain yang didukung.
Penempatan CTA perlu mempertimbangkan alur video. Ajakan berlangganan, misalnya, bisa disampaikan setelah penonton memperoleh manfaat dari pembahasan. Sementara itu, rekomendasi video berikutnya akan lebih relevan jika berkaitan dengan topik yang baru saja ditonton.
YouTube menjelaskan fungsi dan ketentuan penggunaan fitur ini dalam dokumentasi resmi tentang end screen. Karena fitur dan ketentuannya dapat diperbarui, periksa panduan resmi tersebut ketika menyiapkan elemen akhir video.
Selain mengarahkan penonton setelah mereka menonton video, kamu juga perlu memikirkan bagaimana video bisa ditemukan oleh audiens yang tepat. Memahami SEO YouTube dapat membantu kamu mengoptimalkan video agar lebih mudah ditemukan melalui pencarian.
Bagaimana Cara Membuat CTA yang Efektif?

CTA yang efektif bukan sekadar kalimat yang terdengar menarik. Ajakan perlu jelas, relevan dengan isi konten, dan mengarahkan audiens pada tindakan yang memang ingin dicapai. Berikut beberapa langkah yang dapat digunakan sebagai panduan.
1. Tentukan Tindakan yang Ingin Dicapai
Sebelum menulis CTA, tentukan terlebih dahulu tujuan konten. Apakah kamu ingin audiens membaca informasi lanjutan, berinteraksi, mengisi formulir, menghubungi bisnis, atau melakukan pembelian?
Tujuan tersebut akan menentukan bentuk ajakan yang paling masuk akal. Jika konten masih berada pada tahap pengenalan, misalnya, ajakan untuk mempelajari layanan bisa lebih sesuai daripada langsung meminta audiens membeli.
2. Gunakan Kalimat yang Jelas dan Spesifik
Audiens perlu memahami tindakan apa yang diminta. Kalimat seperti “Klik di sini” bisa terasa kurang informatif jika tidak disertai konteks yang menjelaskan tujuan tautan.
Bandingkan dengan “Lihat detail paket layanan” atau “Baca panduan lengkapnya”. Kedua contoh tersebut memberi gambaran yang lebih jelas tentang apa yang akan ditemukan audiens setelah mengeklik.
CTA tidak harus panjang. Kalimat singkat dapat bekerja dengan baik selama tindakan dan tujuannya mudah dipahami.
3. Sesuaikan CTA dengan Audiens dan Konteks
Gunakan bahasa yang sesuai dengan karakter audiens dan situasi mereka. Memahami target audience membantu kamu menentukan informasi apa yang dibutuhkan dan tindakan apa yang masuk akal untuk diminta.
Audiens yang baru mengenal sebuah merek mungkin membutuhkan informasi tambahan, sedangkan orang yang sudah memahami penawaran dapat diarahkan ke langkah yang lebih spesifik.
Perhatikan juga konteks platform. CTA dalam artikel edukasi tidak harus menggunakan gaya yang sama dengan CTA dalam video pendek atau halaman penjualan. Menyesuaikan bahasa dan tindakan yang diminta membantu ajakan terasa lebih alami.
4. Pastikan CTA Selaras dengan Isi Konten
CTA sebaiknya menjadi kelanjutan dari informasi yang sudah disampaikan, bukan muncul sebagai ajakan yang tidak memiliki hubungan dengan topik. Jika konten membahas cara mengevaluasi iklan, misalnya, ajakan untuk melihat layanan pengelolaan iklan dapat relevan setelah pembahasan memberikan konteks yang cukup.
Untuk bisnis yang membutuhkan bantuan menjalankan kampanye berbayar, informasi mengenai Jasa Meta Ads dapat menjadi langkah lanjutan jika kebutuhan audiens memang berkaitan dengan pengelolaan iklan.
Pastikan pula halaman tujuan sesuai dengan CTA. Ajakan untuk melihat harga seharusnya mengarah ke informasi harga, sedangkan ajakan berkonsultasi perlu membawa audiens ke jalur konsultasi yang jelas.
5. Evaluasi Respons terhadap CTA
Setelah CTA digunakan, periksa apakah audiens melakukan tindakan yang diharapkan. Metrik yang relevan bergantung pada tujuannya, misalnya klik tautan, pengisian formulir, pendaftaran, atau pembelian.
Jangan hanya mengandalkan jumlah klik jika tujuan akhirnya adalah mendapatkan leads atau penjualan. Klik menunjukkan bahwa audiens mengambil langkah awal, tetapi belum tentu berarti mereka menyelesaikan tindakan berikutnya.
Karena itu, tentukan ukuran keberhasilan sejak awal dan evaluasi CTA berdasarkan tujuan tersebut. Dengan begitu, kamu dapat melihat apakah ajakan yang digunakan benar-benar membantu mencapai sasaran konten atau bisnis.
Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Membuat CTA
CTA yang kurang tepat dapat membuat audiens bingung, merasa terganggu, atau kehilangan kepercayaan terhadap konten. Beberapa kesalahan berikut perlu diperhatikan ketika menyusun ajakan.
CTA Terlalu Umum dan Tidak Memberi Arahan
Kalimat seperti “Klik di sini” tidak selalu salah, tetapi bisa kurang jelas jika audiens tidak memahami tujuan klik tersebut. Tambahkan konteks yang membantu mereka mengetahui tindakan dan manfaat yang akan diperoleh.
Terlalu Banyak CTA dalam Satu Konten
Meminta audiens untuk mengikuti akun, berkomentar, membagikan konten, mengunjungi website, dan membeli produk sekaligus dapat membuat fokus ajakan menjadi kabur. Tentukan tindakan utama, lalu gunakan ajakan tambahan hanya jika memang diperlukan.
CTA Tidak Sesuai dengan Isi Konten
Ajakan yang tidak berkaitan dengan pembahasan dapat terasa mengganggu. Konten edukasi sebaiknya memiliki CTA yang relevan dengan topiknya, sedangkan konten promosi perlu mengarahkan audiens pada informasi atau penawaran yang benar-benar dibahas.
Janji dalam CTA Tidak Sesuai dengan Kenyataan
Hindari klaim yang tidak dapat dibuktikan, seperti diskon yang sebenarnya tidak tersedia atau janji hasil yang tidak bisa dijamin. CTA perlu menyampaikan penawaran secara jujur dan mengarahkan audiens ke halaman yang sesuai.
Menggunakan Bahasa yang Terlalu Mendesak
Kalimat yang menciptakan tekanan berlebihan tidak selalu sesuai dengan kebutuhan audiens. Urgensi dapat digunakan ketika memang ada batas waktu atau ketersediaan yang nyata, tetapi jangan menciptakan kelangkaan palsu hanya untuk mendorong tindakan cepat.
FAQ Seputar Apa Itu CTA
Apa kepanjangan CTA?
CTA adalah singkatan dari Call to Action, yaitu ajakan yang mengarahkan audiens untuk melakukan tindakan tertentu, seperti mengeklik tautan, mendaftar, menghubungi bisnis, atau membeli produk.
Apa perbedaan CTA dan copywriting?
Copywriting adalah proses menyusun teks untuk menyampaikan pesan pemasaran dan memengaruhi respons audiens. CTA merupakan salah satu elemen yang dapat digunakan dalam copywriting untuk mengarahkan audiens melakukan tindakan tertentu.
Apakah CTA harus berbentuk tombol?
Tidak. CTA dapat berupa tombol, tautan, kalimat dalam artikel atau caption, teks pada gambar, maupun ajakan lisan dalam video. Bentuknya perlu disesuaikan dengan platform dan tindakan yang ingin dicapai.
Di mana sebaiknya CTA ditempatkan?
CTA dapat ditempatkan pada bagian konten yang paling relevan dengan tindakan yang diminta. Pada artikel, CTA bisa muncul setelah pembahasan terkait atau di bagian penutup. Dalam video, CTA dapat disampaikan melalui ucapan atau elemen yang tersedia pada platform.
Apakah satu konten boleh memiliki lebih dari satu CTA?
Boleh, selama setiap ajakan memiliki fungsi yang jelas dan tidak membuat audiens kehilangan fokus. Jika terdapat beberapa tindakan, tentukan CTA utama dan pastikan ajakan lainnya tetap mendukung tujuan konten.
Terapkan CTA dalam Strategi Digital Marketing
CTA membantu menghubungkan informasi yang disampaikan dengan tindakan yang dapat dilakukan audiens. Agar penggunaannya lebih terarah, bisnis perlu memahami tujuan konten, mengenali kebutuhan audiens, memilih kalimat yang jelas, dan memastikan tindakan yang diminta sesuai dengan isi serta halaman tujuan. Prinsip ini juga perlu menjadi bagian dari strategi digital marketing yang dijalankan bisnis secara keseluruhan.
Tidak semua konten harus langsung mendorong penjualan. Ada kalanya CTA berfungsi mengajak audiens mempelajari informasi lebih lanjut, berinteraksi, atau mengenal sebuah merek sebelum mengambil keputusan. Yang terpenting, setiap ajakan memiliki tujuan yang jelas dan memberikan arahan yang relevan. Jika kamu ingin memperdalam pemahaman tentang penerapan strategi digital marketing, kamu bisa mengeksplorasi program Mini Bootcamp Digital Marketing dari Digibos. Dengan memahami hubungan antara konten, audiens, dan tindakan yang ingin dicapai, kamu dapat menyusun CTA yang lebih sesuai dengan kebutuhan pemasaran bisnismu.

